Sabtu sore perlengkapan perjalanan singkat sudah disiapkan, dari senter, logistik dan stamina fisik juga mental. Karena kami lebih menyukai trak atau perjalanan dimalam hari, mungkin lebih menantang dan lebih merasakan suasana alam yang telah tercampuri tangan manusia itu.
Sampai di camp pertama, yakni rumah abah yang biasa dijadikan tempat parkir. Kami beristirahat sejenak dengan di temani kopi hitam khas daerah padarincang yang rasanya tak kalah dengan buatan nasional. Disana pun ada beberapa warung yang buka sampai larut untuk menyambut kedatangan para petualang dimalam hari. Dari penjual rokok, ikan siap bakar, logistik, peralatan dan sebagainya.
Tepat pukul 23.00 kami mulai menapakan di setapak jalan cigumawang yang sudah nyaman untuk di pijaki, lingkungan yang sudah ditata oleh para penata sedikit membuat mataku tak enak melihat. Karena tak seperti pertama aku menapaki wilayah ini. Memang terlihat lebih rapih namun pesona alamiahnya sedikit menghilang.
Memasuki wilayah Cigumawang dimalam hari memberi kesan tersendiri bagi kami, banyak binatang malam dengan nyanyian khasnya yang bermelodi indah membuat telinga kami begitu terkesan. Juga pemandangan pesawahan yang tersusun rapih terlihat berpuluh kunang-kunang yang menyala membuat pesona mata begitu dimanjakan oleh mereka.
Samapai lah kami di muka cigumawang yang mempesona itu. Sebentar kami terdiam dan memejamkan mata seraya mensyukuri nikmat Karunia Allah yang begitu Indah ini. Disana memang tepat sebagai ruang diskusi, suara air yang jatuh dari tebing yang tak banyak karena susasana kemarau yang begitu lama, juga nyanyi nyanyi jangkrik hitam yang indah memaksa kami terus terdiam menikmati suasana yang jarang ditemukan di kota kota yang mulai besar di daerah Banten.
Cigumawang sendiri mempunyai arti tersendiri bagi kami yakni Dinz, Wira, Arif, dan Ncek. Disana merupakan sejarah kami membentuk hobi petualang. Hobi yang jarang diminati ketika dulu, ketika orang – orang muda tak peduli pada lingkungan alam. Semua pojokan wilayah itu mempunyai arti tersendiri bagi kami. Contoh di curug putri disana hati sodara wira tersentuh untuk terus memperjuangkan apa arti sebuah jati diri.
Sodara arif sendiri memiliki kenangan pahit namun manis di daerah DAM. Tempaan mental alam membentuk dirinya menjadi gila akan tantangan. Dinz memiliki kenangan di muka cigumawang, dengan beberapa kisah dari kerasnya pertarungan antara hati dan pikiran. Ncek tersentuh hatinya ketika hujan air dari tebing tinggi cigumawang jatuh perlahan, tertetes air matanya yang lembut selembut kasih sang bunda.
Menikmati larut malam disana kami habiskan dengan bercerita dari hati ke hati, sambil menunggu ikan lele mewangi karena dibakar, juga nasi yang kami olah menjadi Liewet sungguh menggoda rintik air dari cigumawang yang bernada anggun itu.
Canda tawa menemani malam cigumawang bersama kami, hingga kantuk mata tak lagi bersahabat memaksa untuk terpejam di sebuah tempat yang nyaman.
Pagi menyapa kami dengan suara burung hutan yang merdu, juga sinar mentari yang menembus sela sela daun yang hijau dan sejuk. Para pedagang sudah siap distandnya masing” di tepian cigumawang, santapan kopi hitam dan gorengan pisang membawa mata kami pergi menjauh dari kantuk sebari melihat pelangi” kecil yang terbentuk dari cipratan cigumawang.
Dan akhirnya tepat pukul 10.00 kami pergi pulang meninggalkan pengalaman dimalam cigumawang yang bernuansa.
CIGUMAWANG MENYIMPAN SEJUTA KENANGAN DIBUMI PADARINCANG TEMPAT PETUALANG MULAI BERPERANG.
Lokasi
Terletak di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten.
Koordinat GPS: -8.370461, 115.176187
Aksesbilitas
Berjarak sekitar 25 dari kota Serang (Terminal Pakupatan Serang) ke arah Ciomas atau sekitar 5 km ke arah barat lokasi wisata Pemandian Air Cirahab. Jika dari jalan raya Cinangka berjarak 10 km ke arah selatan.
Untuk menuju curug ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun pribadi sekitar 1 jam dari Kota Serang. Ada dua pintu masuk menuju lokasi ini, salah satunya melalui pasar Padarincang
Jika menggunakan kendaraan umum dari Kota Serang, perjalanan dimulai dari Terminal Pakupatan Serang naik angkot warna biru jurusan Kebon Jahe (ongkos Rp 2000 dengan waktu tempuh sekitar 15 menit). Selanjutnya berganti angkot (warna angkot hijau atau kuning) dengan jurusan Pasar Padarincang (ongkos Rp 7000 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam). Dan akhirnya setelah sampai dipasar Padarincang dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui pematang sawah, kebun dan menyebrangi sungai menuju lokasi dengan jarak tempuh sekitar 1 km (atau sekitar 30 menit waktu tempuh yang dibutuhkan).


0 komentar:
Posting Komentar